Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 30 Juni 2024 : DUA PEREMPUAN, DUA MUKJIZAT

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil liturgi hari ini menceritakan kepada kita tentang dua mukjizat yang tampaknya saling berkaitan. Ketika Yesus sedang dalam perjalanan menuju rumah Yairus, salah seorang kepala rumah ibadat yang putrinya sedang sakit parah, seorang perempuan yang menderita pendarahan menyentuh jubah-Nya dari belakang. Ia berhenti untuk menyembuhkannya. Sementara itu, kita diberitahu bahwa putri Yairus telah meninggal, namun Yesus tidak berhenti. Ia tiba di rumah, masuk ke kamar gadis itu, memegang tangannya, dan membesarkan hatinya, menghidupkannya kembali (Mrk 5:21-43). Dua mukjizat, yang satu mukjizat kesembuhan dan yang lainnya mukjizat kebangkitan.

 

Kedua penyembuhan ini diceritakan dalam perikop yang sama. Keduanya terjadi melalui kontak fisik. Benar saja, perempuan itu menyentuh jubah Yesus, dan Yesus memegang tangan gadis itu. Mengapa kontak fisik ini penting? Kedua perempuan ini dianggap najis dan karenanya tidak dapat disentuh secara fisik — yang satu karena kehilangan darah dan yang lainnya karena sudah meninggal. Namun, Yesus membiarkan diri-Nya disentuh dan tidak takut untuk disentuh. Bahkan sebelum melakukan penyembuhan fisik, Ia menantang keyakinan agama palsu bahwa Allah memisahkan yang kudus, menempatkan mereka di satu sisi, dan yang najis di sisi lain. Allah justru tidak melakukan pemisahan seperti ini, karena kita semua adalah anak-anak-Nya. Najis tidak berasal dari makanan, penyakit, atau bahkan kematian; najis berasal dari hati yang najis.

 

Marilah kita mengambil pelajaran ini: ketika menghadapi penderitaan jasmani dan rohani, ketika menghadapi luka-luka yang ditanggung jiwa kita, ketika menghadapi situasi yang menghancurkan kita, dan bahkan ketika kita menghadapi dosa, Allah tidak menjauhkan kita. Allah tidak malu terhadap kita; Allah tidak menghakimi kita. Sebaliknya, Ia mendekat untuk membiarkan diri-Nya disentuh dan menyentuh kita, dan Ia selalu membangkitkan kita dari kematian. Ia selalu menggandeng tangan kita untuk mengatakan: Hai, anak perempuan, hai anak laki-laki, bangunlah! (lbdk. Mrk 5:41). Berjalanlah ke depan; berusahalah maju! “Tuhan, aku orang berdosa”—

 

“Berusaha maju; Aku menjadi dosa karena engkau, untuk menyelamatkan engkau” – “Tetapi Engkau, ya Tuhan, bukan orang berdosa” – “Tidak, tetapi Aku telah menanggung segala akibat dosa untuk menyelamatkan Engkau.” Ini indah!

 

Marilah kita perbaiki gambaran yang ditawarkan Yesus dalam hati kita. Allahlah yang memegang tanganmu dan membangkitkanmu. Dialah yang membiarkan diri-Nya disentuh oleh rasa sakitmu dan menyentuhmu untuk menyembuhkanmu dan memberimu kehidupan kembali. Ia tidak membeda-bedakan siapa pun karena Ia mengasihi semua orang.

 

Jadi, kita bisa bertanya pada diri kita: percayakah kita bahwa Allah seperti itu? Apakah kita membiarkan diri kita disentuh oleh Tuhan, oleh sabda-Nya, oleh kasih-Nya? Apakah kita berhubungan dengan saudara-saudari kita dengan menawarkan bantuan untuk mengangkat mereka, atau apakah kita menjaga jarak dan memberi label pada orang berdasarkan selera dan kesukaan kita? Kita melabeli orang-orang. Perkenankan saya mengajukan pertanyaan kepadamu: Apakah Allah, Tuhan Yesus, melabeli orang-orang? Semoga semua orang menjawab pertanyaan ini. Apakah Allah melabeli manusia? Dan apakah aku hidup dengan terus-menerus melabeli orang lain?

 

Saudara-saudari, marilah kita memandang ke dalam hati Allah, sehingga Gereja dan masyarakat tidak boleh mengecualikan atau memperlakukan siapa pun sebagai “najis”, sehingga setiap orang, dengan masa lalunya masing-masing, disambut dan dicintai tanpa label, prasangka atau kata sifat.

 

Marilah kita berdoa melalui Perawan Suci. Semoga Ia, Bunda kelembutan, menjadi perantara kita dan seluruh dunia.


[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]


Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai negara!

Secara khusus saya menyapa anak-anak Lingkaran Misioner “Misyjna Jutrzenka” dari Skoczów, Polandia; dan umat dari California dan Kosta Rika.

 

Saya menyapa para suster Putri Gereja, yang pada hari-hari ini sedang berziarah mengikuti jejak pendiri mereka, Venerabilis Maria Oliva Bonaldo, bersama dengan sekelompok umat awam. Saya juga menyapa kaum muda dari Gonzaga, dekat Mantua.

 

Hari ini kita mengingat para Protomartir Roma. Kita juga hidup di masa kemartiran, yang bahkan lebih parah dibandingkan abad-abad awal. Banyak saudara-saudari kita di berbagai belahan dunia menderita diskriminasi dan penganiayaan karena keyakinan mereka; dengan demikian mereka menyuburkan Gereja. Yang lainnya menghadapi kemartiran “sarung tangan putih”. Marilah kita mendukung mereka dan terinspirasi oleh kesaksian mereka akan kasih Kristus.

 

Pada hari terakhir bulan Juni ini, marilah kita memohon kepada Hati Kudus Yesus untuk menyentuh hati orang-orang yang menginginkan perang, agar mereka dapat beralih pada rencana dialog dan perdamaian.

 

Saudara-saudari, janganlah kita melupakan Ukraina yang bermartir, Palestina, Israel, Myanmar, dan banyak tempat lain di mana terdapat begitu banyak penderitaan akibat perang!

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat makan siang dan sampai jumpa! Terima kasih.

______

(Peter Suriadi - Bogor, 30 Juni 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 29 Juni 2024 : DUA KUNCI PETRUS

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi!

 

Hari ini, Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, dalam Bacaan Injil Yesus berkata kepada Simon, yang Ia beri nama Petrus, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga” (Mat 16:19). Inilah sebabnya mengapa kita sering melihat Santo Petrus digambarkan memegang dua kunci besar, seperti pada patung di Lapangan ini. Kedua kunci itu melambangkan pelayanan otoritas yang dipercayakan Yesus kepadanya dalam pelayanan seluruh Gereja. Karena otoritas adalah suatu pelayanan, dan otoritas yang bukan merupakan pelayanan adalah kediktatoran.

 

Namun, marilah kita berhati-hati agar dapat memahami dengan baik makna semua ini. Kunci Petrus sebenarnya adalah kunci Kerajaan, yang tidak digambarkan Yesus sebagai brankas atau lemari besi, tetapi dengan gambaran lain: benih yang kecil, mutiara yang berharga, harta terpendam, segenggam ragi (bdk. Mat 13:1-33), yaitu, seperti sesuatu yang berharga dan bernilai, tetapi sekaligus kecil dan tidak mencolok. Oleh karena itu, untuk mencapainya, kita tidak perlu mengoperasikan mekanisme dan kunci pengaman, tetapi memupuk kebajikan seperti kesabaran, perhatian, keteguhan, kerendahan hati, pelayanan.

 

Oleh karena itu, perutusan yang dipercayakan Yesus kepada Petrus bukan untuk menutup pintu rumah, hanya mengizinkan beberapa tamu terpilih untuk masuk, tetapi membantu setiap orang menemukan cara untuk masuk, dengan setia pada Injil Yesus. Untuk semua orang: semua orang, semua orang, semua orang bisa masuk.

 

Dan Petrus akan melakukan hal ini sepanjang hidupnya, dengan setia, hingga kematiannya sebagai martir, setelah menjadi orang pertama yang mengalaminya sendiri, bukannya tanpa kelelahan dan dengan banyak kemunduran, kegembiraan dan kebebasan yang berasal dari pertemuan dengan Tuhan. Ia adalah orang pertama yang harus bertobat, dan memahami bahwa otoritas adalah sebuah pelayanan, untuk membuka pintu bagi Yesus, dan itu tidak mudah baginya. Marilah kita berpikir: setelah berkata kepada Yesus, “Engkau adalah Mesias”, Sang Guru harus menegur Petrus, karena Petrus menolak menerima nubuat tentang sengsara dan kematian-Nya di kayu salib (bdk. Mat 16:21-23).

 

Petrus menerima kunci Kerajaan bukan karena ia sempurna, bukan: ia adalah orang berdosa; tetapi karena ia rendah hati, jujur, dan Bapa telah memberinya iman yang tulus (bdk. Mat 16:17). Oleh karena itu, dengan mempercayakan dirinya pada kerahiman Allah, ia mampu mendukung dan membentengi saudara-saudaranya juga, sebagaimana diminta darinya (lih. Luk 22:32).

 

Hari ini kita dapat bertanya pada diri kita: apakah aku memupuk keinginan untuk masuk, dengan anugerah Allah, ke dalam Kerajaan-Nya, dan dengan bantuan-Nya, menjadi penjaga yang ramah bagi orang lain juga? Dan untuk melakukannya, apakah aku membiarkan diriku “dipoles”, dilunakkan, diteladani oleh Yesus dan Roh-Nya, Roh yang bersemayam di dalam kita, di dalam diri kita masing-masing?

 

Semoga Maria, Ratu Para Rasul, serta Santo Petrus dan Santo Paulus, menganugerahkan kepada kita, melalui doa mereka, untuk menjadi penuntun dan dukungan satu sama lain dalam perjumpaan dengan Tuhan Yesus.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa kamu semua, yang datang pada Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus, serta terutama saya menyapa umat Roma! Hari ini saya ingin salam saya menjangkau seluruh penduduk Roma, semuanya, bersamaan dengan doa saya; keluarga, terutama mereka yang paling mengalami kesulitan; para lansia, mereka yang paling kesepian; orang sakit, orang yang dipenjarakan, dan orang yang karena berbagai sebab berada dalam kesulitan. Saya berharap setiap orang dapat memiliki pengalaman seperti Petrus dan Paulus; yaitu agar kasih Yesus Kristus menyelamatkan hidup mereka dan mendorong mereka untuk memberi, mendorong mereka untuk memberi dengan sukacita, dengan cuma-cuma. Hidup tidak dijualbelikan.

 

Saya menyapa para Reguler Kanon Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, yang berkumpul di Roma untuk menghadiri Kapitel Umum; dan saya mengucapkan selamat kepada mereka atas pameran bunga yang luar biasa yang diselenggarakan oleh kelompok “Pro Loco” di Piazza Pio XII, yang diciptakan oleh para pakar bunga dari berbagai penjuru Italia. Terima kasih, terima kasih banyak! Saya bisa melihatnya dari sini, indah sekali!

 

Saya memikirkan saudara-saudari yang sedang menderita karena perang: marilah kita mendoakan semua penduduk yang terluka dan terancam oleh pertempuran, agar Allah dapat membebaskan dan mendukung mereka dalam perjuangan demi perdamaian. Dan saya bersyukur kepada Allah atas pembebasan kedua imam Katolik Yunani. Semoga semua tawanan perang ini segera pulang! Marilah kita berdoa bersama: semoga semua narapidana kembali ke rumah.

 

Kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari raya. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 29 Juni 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 26 Juni 2024 : KATEKESE DALAM RANGKA HARI MENENTANG PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA SEDUNIA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi! Saya tidak bisa mendengarmu!

 

Hari ini diperingati sebagai Hari Menentang Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Sedunia, yang ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1987. Tema tahun ini adalah Buktinya Jelas: Berinvestasi dalam Pencegahan.

 

Santo Yohanes Paulus II menegaskan, “Penyalahgunaan narkoba memiskinkan setiap komunitas di mana pun ia berada. Penyalahgunaan narkoba mengurangi jalinan kekuatan dan moral manusia. Penyalahgunaan narkoba melemahkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Penyalahgunaan narkoba menghancurkan keinginan untuk hidup dan berkontribusi terhadap masyarakat yang lebih baik.”[1] Di balik dorongan penyalahgunaan narkoba dan penggunaan narkoba, pada saat yang sama, marilah kita ingat bahwa setiap pecandu “memiliki kisah pribadi yang unik dan harus didengarkan, dipahami, dicintai, serta, sejauh mungkin, disembuhkan dan dimurnikan… Mereka terus memiliki, lebih dari sebelumnya, martabat sebagai anak-anak Allah.”[2] Setiap orang mempunyai martabat.

 

Namun, kita tidak bisa mengabaikan niat dan tindakan jahat para penyalur dan pengedar narkoba. Mereka adalah para pembunuh. Paus Benediktus XVI mengatakan dengan tegas saat berkunjung ke komunitas terapeutik. Inilah yang dikatakan Paus Benediktus: “Karena itu, saya mendesak para pengedar narkoba untuk merenungkan dampak buruk yang mereka timbulkan terhadap banyak generasi muda dan orang dewasa dari setiap lapisan masyarakat: Allah akan meminta pertanggungjawaban atas perbuatanmu. Martabat manusia tidak bisa diinjak-injak dengan cara seperti ini.” [3]Dan narkoba menginjak-injak martabat manusia.

 

Pengurangan kecanduan narkoba tidak dapat dicapai dengan meliberalisasi penggunaan narkoba – ini hanya khayalan! – sebagaimana telah diusulkan oleh beberapa negara, atau telah diterapkan di beberapa negara. Dengan kata lain: kamu melakukan liberalisasi dan narkoba semakin banyak dikonsumsi. Setelah mengetahui begitu banyak kisah tragis para pecandu narkoba dan keluarganya, saya yakin bahwa mengakhiri produksi dan perdagangan zat-zat berbahaya ini merupakan kewajiban moral. Berapa banyak pengedar kematian – karena pengedar narkoba adalah pengedar kematian! – betapa banyaknya penyelundup kematian, yang didorong oleh nalar kekuasaan dan uang dengan cara apa pun! Dan bencana ini, yang menghasilkan kekerasan dan menabur penderitaan dan kematian, menuntut tindakan berani dari masyarakat kita secara keseluruhan.

 

Produksi dan perdagangan narkoba juga berdampak merusak rumah tangga kita bersama. Hal ini semakin nyata, misalnya di lembah Amazon.

 

Cara penting lainnya untuk menentang penyalahgunaan dan peredaran narkoba adalah melalui pencegahan, yang dilakukan dengan mendorong keadilan yang lebih besar, mendidik generasi muda mengenai nilai-nilai yang membangun kehidupan pribadi dan bermasyarakat, mendampingi mereka yang membutuhkan, dan memberikan harapan untuk masa depan.

 

Dalam perjalanan saya di berbagai keuskupan dan negara, saya mengunjungi beberapa komunitas pemulihan yang diilhami oleh Injil. Perjalanan tersebut adalah kesaksian yang kuat dan penuh harapan atas komitmen para imam, para pelaku hidup bakti, dan kaum awam untuk mengamalkan perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati. Saya juga merasa terhibur dengan upaya yang dilakukan oleh berbagai konferensi wali Gereja untuk mendorong legislasi dan kebijakan yang adil mengenai perlakuan terhadap orang-orang yang kecanduan narkoba, dan pencegahan untuk menghentikan momok ini.

 

Sebagai contoh, saya merujuk pada jaringan La Pastoral Latinoamericana de Acompañamiento y Prevençión de Adicciones (PLAPA). Piagam jaringan ini mengakui bahwa “kecanduan alkohol, zat psikoaktif, dan bentuk kecanduan lainnya (pornografi, teknologi baru, dll.) ... adalah masalah yang mempengaruhi kita tanpa pandang bulu, melampaui batas geografis, sosial, budaya, agama, dan perbedaan usia. Terlepas dari perbedaan... kita ingin berorganisasi sebagai sebuah komunitas: berbagi pengalaman, antusiasme, kesulitan.”[4]

 

Saya juga menyebut para uskup di Afrika bagian selatan, yang pada bulan November 2023 mengadakan pertemuan dengan tema “Memberdayakan kaum muda sebagai agen perdamaian dan harapan.” Perwakilan kaum muda yang hadir mengakui pertemuan tersebut sebagai “tonggak penting yang diarahkan menuju kaum muda yang sehat dan aktif di seluruh wilayah.” Mereka juga telah berjanji. Janji mereka berbunyi seperti ini: “Kami menerima peran sebagai duta dan pengacara yang akan berjuang menentang penggunaan narkoba. Kami mengimbau seluruh generasi muda untuk selalu saling berempati setiap saat.”[5]

 

Saudara-saudari terkasih, dihadapkan pada hal yang tragis – sungguh tragis bukan? – situasi tragis kecanduan narkoba yang dialami jutaan orang di seluruh dunia, dihadapkan pada skandal produksi dan peredaran gelap narkoba, “kita tidak bisa bersikap acuh tak acuh. Tuhan Yesus berhenti, mendekat, menyembuhkan luka. Dalam gaya kedekatan-Nya, kita juga dipanggil untuk bertindak, berhenti sejenak di hadapan situasi kerapuhan dan kesakitan, mengetahui bagaimana mendengarkan jeritan kesepian dan kesedihan, membungkuk untuk mengangkat dan menghidupkan kembali mereka yang terjatuh ke dalam keterpurukan. perbudakan narkoba.”[6] Dan kita juga mendoakan para penjahat yang membelanjakan dan memberikan narkoba kepada generasi muda: mereka adalah penjahat, mereka adalah pembunuh. Marilah kita mendoakan pertobatan mereka.

 

Pada Hari Narkoba Sedunia ini, sebagai umat kristiani dan komunitas gereja, marilah kita mendoakan ujud ini serta memperbarui komitmen kita dalam berdoa dan bekerja menentang narkoba. Terima kasih!

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris, terutama kelompok dari Inggris, Jerman, Kongo, Australia, India, Filipina, Vietnam dan Amerika Serikat. Secara khusus, saya menyapa banyak kelompok siswa, bersama dengan guru-guru mereka. Bagimu dan keluargamu, saya memohonkan sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Semoga Allah memberkati kamu semua!

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Saudara-saudari terkasih: Hari ini kita merayakan Hari Menentang Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Sedunia, yang tahun ini berkonsentrasi pada perlunya “Berinvestasi dalam Pencegahan”. Kecanduan narkoba adalah sebuah momok sosial, yang tidak hanya menghancurkan martabat kemanusiaan orang-orang yang terlibat, namun juga kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Selain memerangi peredaran gelap narkoba dan kejahatan yang ditimbulkannya, diperlukan upaya yang lebih besar untuk mencegah penyalahgunaan narkoba dan memberikan dukungan serta bantuan kepada para korbannya. Hari ini kita memberikan penghormatan atas segala upaya semua individu dan kelompok yang, sering kali terinspirasi oleh Injil, memberikan kesembuhan bagi mereka yang diperbudak oleh penyalahgunaan narkoba, membangun jaringan dan program pemulihan, dan mendorong prakarsa legislatif untuk mengendalikan penyebaran penggunaan narkoba, khususnya di kalangan kaum muda. Sebagai individu dan Gereja, marilah kita memberikan dukungan doa dan mendorong mereka dalam berkarya.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 27 Juni 2024)



[1]Pesan kepada perwakilan Konferensi Internasional tentang “Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba” (4 Juni 1987).

[2]Wejangan bagi para peserta pertemuan yang disponsori oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan tentang “Narkotika: Masalah dan Solusi untuk Masalah Global ini (24 November 2016).

[3]Wejangan bagi komunitas yang tinggal di “Fazenda da Esperança”, Brasil, 12 Mei 2007.

[4]https://adn.celam.org/wp-content/uploads/2023/09/Carta-a-la-Iglesia-de-ALC-PLAPA-14sept2023-CL.pdf

[5]https://imbisa.africa/2023/11/21/statement-following-the-imbisa-youth-meeting/

[6]Pesan kepada peserta Kongres Internasional Ahli Toksikologi Forensik ke-60 (26 Agustus 2023).

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 23 Juni 2024 : SAAT BADAI DATANG, APAKAH AKU MEMBIARKAN DIRIKU DILIPUTI OLEH GEJOLAK ATAU AKU BERPEGANG TEGUH PADA YESUS?

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini menghadirkan Yesus di atas perahu bersama para murid-Nya, di Danau Tiberias. Topan yang dahsyat sekali tiba-tiba datang dan perahu terancam tenggelam. Yesus yang tertidur, bangun, menghardik angin dan segalanya menjadi teduh kembali (bdk. Mrk 4:35-41).

 

Namun sungguh, Ia tidak membangunkan, mereka membangunkan Dia! Dengan sangat ketakutan, para muridlah yang membangunkan Yesus. Malam sebelumnya, Yesus sendiri yang menyuruh murid-murid-Nya naik ke perahu dan menyeberangi danau. Mereka adalah para ahli, para nelayan, dan itu adalah lingkungan hidup mereka, namun topan dapat menyulitkan mereka. Tampaknya Yesus ingin menguji mereka. Namun, Ia tidak membiarkan mereka sendirian; Ia tinggal bersama mereka di dalam perahu, tenang; bahkan Ia tertidur. Dan ketika topan melanda, Ia menenangkan mereka dengan kehadiran-Nya, Ia menyemangati mereka, Ia mendorong mereka untuk semakin beriman dan mendampingi mereka mengatasi bahaya. Namun kita dapat mengajukan pertanyaan ini: mengapa Yesus bertindak seperti ini?

 

Untuk menguatkan iman para murid dan menjadikan mereka lebih berani. Memang benar, mereka – para murid – yang keluar dari pengalaman ini menjadi lebih sadar akan kuasa Yesus dan kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka, dan karena itu lebih kuat dan lebih siap menghadapi rintangan, kesulitan, termasuk perasaan takut untuk keluar mewartakan Injil. Setelah mengatasi pencobaan ini bersama Dia, mereka akan tahu bagaimana menghadapi banyak pencobaan lainnya, bahkan sampai disalibkan dan menjadi martir, untuk membawa Injil kepada segala bangsa.

 

Dan Yesus juga melakukan hal yang sama kepada kita, khususnya dalam Ekaristi: Ia mengumpulkan kita di sekeliling-Nya, Ia memberi kita Sabda-Nya, Ia memberi makan dengan tubuh dan darah-Nya, dan kemudian Ia mengundang kita untuk berlayar, menyampaikan segala sesuatu yang telah kita dengar. dan membagikan apa yang telah kita terima kepada semua orang, dalam kehidupan sehari-hari, bahkan ketika sulit sekalipun. Yesus tidak membiarkan kita menghadapi pertentangan, namun tanpa pernah meninggalkan kita, Ia membantu kita menghadapinya. Ia membuat kita berani. Jadi kita pun, dengan mengatasinya dengan bantuan-Nya, belajar lebih banyak lagi untuk berpegang pada-Nya, percaya kepada kuasa-Nya, yang jauh melampaui kemampuan kita, mengatasi ketidakpastian dan keragu-raguan, ketertutupan dan prasangka, dan Ia melakukan hal ini dengan keberanian dan keagungan. dari hati, untuk memberitahu semua orang bahwa Kerajaan Surga telah hadir, ada di sini, dan dengan Yesus berada di samping kita, kita dapat membuatnya bertumbuh bersama, melampaui segala rintangan.

 

Maka marilah kita bertanya pada diri kita: pada saat-saat pencobaan, dapatkah aku mengingat saat-saat ketika aku pernah mengalami, dalam hidupku, kehadiran dan pertolongan Tuhan? Marilah kita renungkan… Saat badai datang, apakah aku membiarkan diriku diliputi oleh gejolak atau aku berpegang teguh pada-Nya – badai batin ini, bukan? – apakah aku berpegang teguh pada-Nya untuk menemukan ketenangan dan kedamaian, dalam doa, keheningan, mendengarkan Sabda, penyembahan dan berbagi iman dalam persaudaraan?

 

Semoga Perawan Maria, yang menyambut kehendak Allah dengan kerendahan hati dan keberanian, memberi kita, di saat-saat sulit, ketenangan pembebasan di dalam Dia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan berbagai negara.

 

Secara khusus, saya menyapa umat Sant Boi de Llobregat, Barcelona, ​​dan umat Bari. Saya menyapa para peserta demonstrasi Memilih Kehidupan, Paduan Suara Edelweiss Bagian Alpen Bassano del Grappa, dan para pesepeda dari Bollate.

 

Marilah kita terus mendoakan perdamaian, khususnya di Ukraina, Palestina, dan Israel. Saya dapat melihat bendera Israel… Hari ini saya melihatnya di balkon rumahmu ketika saya datang dari Gereja Santi Quaranta Martiri – sebuah seruan untuk perdamaian! Marilah kita mendoakan perdamaian! Palestina, Gaza, Kongo Utara… marilah kita mendoakan perdamaian! Dan perdamaian di Ukraina yang tersiksa, yang sangat menderita, perkenankanlah ada perdamaian! Semoga Roh Kudus mencerahkan pikiran para pemimpin pemerintahan, mengilhami kebijaksanaan dan rasa tanggung jawab dalam diri mereka, menghindari tindakan atau perkataan apa pun yang dapat memicu konfrontasi, dan sebaliknya berupaya dengan tegas untuk menyelesaikan pertikaian secara damai. Dibutuhkan negosiasi.

 

Kemarin lusa, Pastor Manuel Blanco, seorang Fransiskan yang telah tinggal di Gereja Santi Quaranta Martiri e San Pasquale Baylon di Roma selama empat puluh empat tahun, meninggal dunia. Ia adalah seorang superior, seorang bapa pengakuan, seorang penasihat. Dengan mengenangnya, saya ingin mengenang begitu banyak saudara Fransiskan, bapa pengakuan, pengkhotbah, yang dihormati dan menghormati Gereja Roma. Terima kasih untuk mereka semua!

 

Dan kepada kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makananmu dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 23 Juni 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 19 Juni 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 4 : ROH KUDUS MENGAJARKAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN BERDOA. MAZMUR, SIMFONI DOA DALAM KITAB SUCI

Saudara-saudari, selamat pagi!

 

Dalam rangka mempersiapkan Tahun Yubileum mendatang, saya mengajak untuk mendedikasikan tahun 2024 “kepada sebuah ‘simfoni’ doa yang agung”.[1] Dalam katekese hari ini, saya ingin mengingatkan bahwa Gereja telah memiliki sebuah simfoni doa, yang penciptanya adalah Roh Kudus, dan simfoni tersebut adalah Kitab Mazmur.

 

Seperti dalam simfoni mana pun, simfoni dalam Kitab Mazmur mengandung berbagai “gerakan”, yaitu berbagai genre doa: pujian, syukur, permohonan, ratapan, narasi, refleksi yang bijak, dan lain-lain, baik dalam bentuk pribadi maupun dalam bentuk paduan suara seluruh umat. Simfoni tersebut adalah lagu-lagu yang ditempatkan Roh Kudus sendiri pada bibir Gereja-Nya, Sang Mempelai Perempuan. Seluruh Kitab dalam Kitab Suci, yang saya sebutkan terakhir kali, diinspirasikan oleh Roh Kudus, bahkan Kitab Mazmur pun demikian dalam arti penuh dengan inspirasi puitis.

 

Mazmur mempunyai tempat khusus dalam Perjanjian Baru. Memang benar, masih ada edisi-edisi yang memuat Perjanjian Baru dan Mazmur secara bersamaan. Di meja saya, saya memiliki edisi Perjanjian Baru Mazmur dalam bahasa Ukraina milik seorang prajurit yang tewas dalam medan perang, yang dikirimkan kepada saya. Dan ia berdoa di barisan depan dengan buku ini. Tidak semua Mazmur – dan tidak semua bagian Mazmur – dapat dilantunkan dan dimazmurkan oleh umat Kristiani, apalagi oleh manusia modern. Kadang-kadang, Mazmur mencerminkan situasi historis dan mentalitas keagamaan yang bukan lagi situasi historis dan mentalitas keagamaan kita. Ini tidak berarti Mazmur tidak diinspirasi, namun dalam aspek-aspek tertentu Mazmur berkaitan dengan sebuah waktu dan tahap pewahyuan yang bersifat sementara, seperti juga halnya dengan sebagian besar peraturan perundang-undangan kuno.

 

Yang paling menarik perhatian kita berkenaan dengan Mazmur adalah doa Yesus, Maria, para Rasul dan seluruh generasi kristiani sebelum kita. Ketika kita medaraskannya, Allah mendengarkannya dengan “orkestra” megah komunitas para kudus. Yesus, menurut Surat kepada Orang Ibrani, masuk ke dunia dengan sebuah ayat dari Mazmur di dalam hati-Nya: “Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah” (bdk. Ibr 10:7; Mzm 40:9), dan Ia meninggalkan dunia, menurut Injil Lukas, dengan ayat lain di bibir-Nya: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk 23:46, bdk. Mzm 31:6).

 

Penggunaan mazmur dalam Perjanjian Baru diikuti oleh para Bapa Gereja dan seluruh Gereja, yang menjadikan Mazmur sebagai unsur tetap dalam perayaan Misa dan Liturgi Harian. “Seluruh Kitab Suci memancarkan kebaikan Allah”, kata Santo Ambrosius, “terutama manisnya kitab Mazmur”[2], manisnya kitab Mazmur. Saya bertanya-tanya: apakah kamu kadang-kadang berdoa dengan Mazmur? Ambillah Kitab Suci atau Perjanjian Baru, dan doakanlah sebuah Mazmur. Misalnya, saat kamu merasa sedih karena telah berbuat dosa, apakah kamu mendoakan Mazmur 50? Ada banyak Mazmur yang membantu kita untuk terus maju. Bentuklah kebiasaan berdoa dengan Mazmur. Saya meyakinkanmu bahwa kamu akan gembira pada akhirnya.

 

Namun kita tidak bisa hanya hidup berdasarkan warisan masa lalu: kita perlu menjadikan Mazmur sebagai doa kita. Ada tertulis bahwa, dalam arti tertentu, kita sendiri harus menjadi “penulis” Mazmur, menjadikannya milik kita dan berdoa bersamanya.[3] Jika ada Mazmur, atau sekadar ayat, yang menyentuh hati kita, ada baiknya kita mengulanginya dan mendoakannya sepanjang hari. Mazmur adalah doa “untuk segala keadaan”: tidak ada keadaan pikiran atau kebutuhan yang tidak menemukan kata-kata terbaik di dalamnya untuk diubah menjadi doa. Tidak seperti doa-doa lainnya, Mazmur tidak kehilangan keefektifannya karena diulang-ulang; sebaliknya, Mazmur meningkatkannya. Mengapa? Karena, setiap kali Mazmur dibaca dengan iman, Allah dan “nafas”-Nya menginspirasikannya.

 

Jika kita merasa dilanda penyesalan atau rasa bersalah, karena kita adalah orang berdosa, kita dapat mengulangi bersama Daud: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu” (Mzm 51:3), Mazmur 51. Jika kita ingin mengungkapkan ikatan pribadi yang kuat dengan cinta, marilah kita berkata: “Ya Allah, Engkaulah Allahku, / pagi-pagi aku mencari engkau, / jiwaku haus kepada-Mu, / tubuhku letih merindukan Engkau, / seperti tanah yang kering dan kehausan, tiada berair” (Mzm 63:2), Mazmur 63. Bukan tanpa alasan Liturgi menyisipkan Mazmur ini ke dalam Laudes hari Minggu dan hari raya. Dan jika ketakutan dan kesedihan melanda kita, kata-kata indah Mazmur 23 datang menyelamatkan kita: “Tuhanlah gembalaku… Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya” (Mzm 23:1, 4).

 

Mazmur memungkinkan kita untuk tidak memiskinkan doa kita dengan mereduksinya hanya menjadi permohonan, menjadi “berilah aku, berilah kami…”. Kita belajar dari Doa Bapa Kami, bahwa sebelum memohon “roti harian” kita, ucapkanlah, “Dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu”. Mazmur membantu kita membuka diri terhadap doa agar tidak berfokus pada diri sendiri: doa pujian, doa berkat, doa syukur; dan Mazmur juga membantu kita menyuarakan kepada segenap ciptaan, melibatkannya dalam pujian kita.

 

Saudara-saudari, semoga Roh Kudus, yang memberikan kata-kata kepada Gereja, Sang Mempelai Perempuan, untuk didoakan kepada Sang Mempelai Laki-laki ilahinya, membantu kita untuk menjadikan kata-kata itu bergema di dalam Gereja dewasa ini, dan menjadikan tahun persiapan Yubileum ini sebagai simfoni doa yang sejati. Terima kasih!

 

[Imbauan]

 

Besok adalah Hari Pengungsi Sedunia yang dipromosikan oleh PBB. Semoga hari tersebut menjadi kesempatan untuk mengalihkan pandangan penuh perhatian dan persaudaraan kepada semua orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka demi mencari perdamaian dan keamanan. Kita semua bertekad menyambut, mempromosikan, mendampingi, dan memadukan mereka yang mengetuk pintu kita. Saya berdoa agar negara-negara berupaya menjamin kondisi yang manusiawi bagi para pengungsi dan memfasilitasi proses pemaduan.

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Australia, India, india, Filipina, Afrika Selatan, Korea Selatan, Swedia, Taiwan, Tanzania, Inggris, Amerika Serikat dan Vietnam. Saya memohonkan atasmu dan keluargamu sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan seorang penutur]

 

Hari ini kita melanjutkan katekese kita tentang Roh Kudus, yang mengajarkan Gereja, Sang Mempelai Kristus, bagaimana berdoa. Untuk simfoni doa kita dalam persiapan menyambut Tahun Yubileum yang akan datang, kita beralih ke puisi Mazmur, seperti yang telah dilakukan oleh “orkestra” agung, yaitu persekutuan para kudus, sejak masa awal Gereja. Mazmur mengungkapkan setiap gerak simfoni ini dan menggemakan setiap perasaan hati kita dalam kata-kata yang seringkali menyampaikan rasa takjub, duka, dan harapan. Semakin sering kita mengulangi doa-doa yang diinspirasi ini, semakin kuat dan efektif doa kita. Semoga Roh Kudus memperkaya doa kita dengan karunia ini, dan dengan melakukan hal ini, memberdayakan kita untuk menyuarakan kepada segenap ciptaan, melibatkannya dalam pujian kita.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 20 Juni 2024)



[1]Surat kepada Uskup Agung Fisichella dalam rangka Yubileum 2025 (11 Februari 2022).

[2]Ulasan tentang Mazmur I, 4, 7: CSEL 64,4-7.

[3]Giovanni Cassiano, Conlationes, X,11: SCh 54, 92-93.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 16 Juni 2024 : BENIH MENGGAMBARKAN SIKAP PENGHARAPAN YANG PENUH PERCAYA DIRI

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Hari ini Injil liturgi berbicara kepada kita tentang Kerajaan Allah melalui gambaran benih (bdk. Mrk 4:26-34). Yesus menggunakan perumpamaan ini beberapa kali (bdk. Mat 13:1-23; Mrk 4:1-20; Luk 8:4-15), dan hari ini Ia menggunakannya dengan mengajak kita untuk secara khusus merenungkan suatu sikap penting yang berkaitan dengan gambaran benih: sikap pengharapan yang penuh percaya diri.

 

Memang benar, dalam menabur, tidak peduli seberapa bagus atau melimpahnya benih yang disebarkan oleh petani, atau seberapa baik ia mempersiapkan lahan, tanaman tidak akan langsung bertunas: dibutuhkan waktu dan kesabaran! Oleh karena itu, setelah menabur, ia perlu tahu bagaimana menunggu dengan percaya diri, membiarkan benih terbuka pada saat yang tepat serta bertunas dan tumbuh, pada akhirnya, cukup kuat untuk menjamin panen yang melimpah (bdk. ayat 28-29). Di bawah tanah mukjizat sudah berlangsung (bdk. ayat 27), ada perkembangan yang sangat besar, namun tidak terlihat, dibutuhkan kesabaran, dan sementara itu perlu untuk terus merawat gambut, menyirami dan menjaganya tetap bersih, meskipun faktanya di permukaan sepertinya tidak sedang terjadi apa-apa.

 

Kerajaan Allah juga seperti ini. Tuhan menaruh dalam diri kita benih-benih sabda-Nya dan rahmat-Nya, benih yang baik, benih yang melimpah, lalu tanpa henti menemani kita, Ia menanti dengan sabar. Tuhan terus memelihara kita, dengan keyakinan seorang Bapa, namun Ia memberi kita waktu – Tuhan itu sabar – agar benih terbuka, bertumbuh dan berkembang hingga menghasilkan buah perbuatan baik. Dan ini dikarenakan Ia ingin tidak ada sesuatu pun di lahan-Nya hilang, sehingga segala sesuatunya mencapai kematangan penuh; Ia ingin kita semua dapat bertumbuh seperti bulir gandum.

 

Bukan hanya ini. Dengan melakukan hal ini, Tuhan memberi kita sebuah contoh: Ia juga mengajarkan kita untuk menabur Injil dengan percaya diri di mana pun kita berada, dan kemudian menunggu benih yang telah ditabur itu tumbuh dan menghasilkan buah dalam diri kita dan sesama, tanpa berputus asa dan tiada henti saling mendukung dan membantu bahkan ketika, meskipun telah berupaya, kita tampaknya tidak melihat hasil langsung. Bahkan, sering kali bahkan di antara kita, di luar hal yang terlihat, mukjizat sudah berlangsung, dan pada saatnya nanti akan menghasilkan buah yang melimpah!

 

Oleh karena itu, kita dapat bertanya pada diri kita: bolehkah Sabda ditaburkan dalam diriku? Apakah aku juga menabur Sabda Allah dengan penuh keyakinan di tempat tinggalku? Apakah aku menanti dengan sabar, atau justru patah semangat karena tidak langsung melihat hasilnya? Dan tahukah aku bagaimana mempercayakan segalanya dengan tenang kepada Tuhan, seraya melakukan yang terbaik untuk mewartakan Injil?

 

Semoga Perawan Maria, yang menyambut dan menumbuhkan benih Sabda di dalam dirinya, membantu kita menjadi penabur Injil yang murah hati dan percaya diri.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih,

 

Kemarin, di Krakow, Michał Rapacz dibeatifikasi. Sebagai seorang imam dan martir, seorang gembala yang sesuai dengan hati Kristus, dan seorang saksi Injil yang setia dan murah hati, ia mengalami penganiayaan Nazi dan Soviet serta menanggapinya dengan karunia hidupnya. Tepuk tangan meriah untuk sang beato baru!

 

Kabar duka mengenai bentrokan dan pembantaian di bagian timur Republik Demokratik Kongo terus berdatangan. Saya mengimbau para pemimpin nasional dan komunitas internasional untuk melakukan segala yang mungkin untuk menghentikan kekerasan dan melindungi kehidupan warga sipil. Di antara para korban, banyak di antara mereka adalah umat Kristiani yang terbunuh dalam kebencian iman. Mereka adalah para martir. Pengorbanan mereka adalah benih yang bertunas dan menghasilkan buah, serta mengajarkan kita untuk memberikan kesaksian Injil dengan keberanian dan konsistensi.

 

Janganlah kita berhenti berdoa untuk perdamaian di Ukraina, Tanah Suci, Sudan, dan Myanmar serta di mana pun orang-orang menderita akibat perang.

 

Saya menyapa kamu semua, umat Roma dan para peziarah! Secara khusus, saya menyapa umat Lebanon, Mesir dan Spanyol; siswa “London Oratory School”; mereka yang berasal dari Keuskupan Opole Polandia dan Keuskupan Budapest-Albertfalva; para peserta Forum Awam Eropa, dengan tema “Iman, Seni dan Sinodalitas”; serta kelompok ibu-ibu dari komunitas Kongo di Roma. Ibu-ibu ini bernyanyi dengan baik! Saya ingin mendengar mereka bernyanyi lain kali.

 

Saya menyapa umat Carini, Catania, Siracusa dan Messina; kaum muda calon penerima Komuni dan Krisma dari Mestrino; yang baru dikukuhkan dari Castelsardo, Sassari, dari Bolgare, Bergamo, dan dari Camin, Padua; dan terakhir, ucapan terima kasih kepada para pendonor darah yang baru saja merayakan Hari Nasional mereka.

 

Saya menyapa kamu semua, dan saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada kamu semua. Tolong, jangan lupa untuk mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu, dan sampai jumpa!

______

(Peter Suriadi - Bogor, 16 Juli 2024)

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 12 Juni 2024 : RANGKAIAN KATEKESE TENTANG ROH KUDUS DAN SANG MEMPELAI PEREMPUAN. ROH KUDUS MENUNTUN UMAT ALLAH MENUJU YESUS, SANG PENGHARAPAN. 3 : “SELURUH KITAB SUCI DIILHAMKAN ALLAH”. MENGENAL KASIH ALLAH MELALUI SABDA ALLAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi, selamat datang!

 

Marilah kita lanjutkan katekese tentang Roh Kudus yang menuntun Gereja menuju Kristus, sang pengharapan kita. Ia adalah sang penuntun. Terakhir kita merenungkan karya Roh dalam penciptaan; hari ini kita akan melihatnya dalam pewahyuan, yang di dalamnya Kitab Suci merupakan kesaksian yang diilhamkan Allah dan berwibawa.

 

Surat Kedua Santo Paulus kepada Timotius berisi pernyataan ini: “Seluruh Kitab Suci diilhamkan Allah” (3:16). Dan bagian lain dalam Perjanjian Baru mengatakan, “Oleh dorongan Roh Kudus, orang-orang berbicara atas nama Allah” (2Ptr ​​1:21). Ini adalah ajaran pengilhaman ilahi Kitab Suci, yang kita nyatakan sebagai klausula iman dalam Syahadat, ketika kita mengatakan bahwa Roh Kudus “bersabda dengan perantaraan para nabi”. Ilham ilahi Kitab Suci.

 

Roh Kudus, yang mengilhami Kitab Suci, juga menjelaskan dan menjadikannya hidup dan aktif selamanya. Dari terilhami, Ia menjadikan mereka mengilhami. Kitab Suci “diilhamkan Allah”, Konsili Vatikan II mengatakan, “dan sekali untuk selamanya telah dituliskan, serta tanpa perubahan mana pun menyampaikan sabda Allah sendiri, lagi pula mendengarkan suara Roh Kudus dalam sabda para nabi dan para Rasul” (21). Dengan cara ini Roh Kudus melanjutkan, di dalam Gereja, tindakan Yesus yang bangkit yang, setelah Paskah, “membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Luk 24:45).

 

Memang benar dapat terjadi suatu perikop Kitab Suci yang telah kita baca berkali-kali tanpa emosi tertentu, suatu hari ketika kita membacanya dalam suasana iman dan doa, kemudian tiba-tiba tercerahkan, berbicara kepada kita, menyoroti masalah yang sedang kita hadapi, memperjelas kehendak Allah bagi kita dalam situasi tertentu. Perubahan ini disebabkan oleh apa, jika bukan karena pencerahan Roh Kudus? Sabda Kitab Suci, di bawah tindakan Roh Kudus, menjadi bercahaya; dan dalam kasus-kasus tersebut, kita merasakan dengan tangan kita alangkah benarnya pernyataan dalam Surat kepada Orang Ibrani: “Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun” (4:12).

 

Saudara-saudari, Gereja dibina melalui bacaan rohani Kitab Suci, yaitu dengan membacanya di bawah bimbingan Roh Kudus yang mengilhaminya. Bagaikan mercusuar yang menerangi segala sesuatu, pusatnya terletak pada peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus, yang menggenapi rencana keselamatan, mewujudkan segala gambaran dan nubuat, mengungkap segala misteri yang tersembunyi dan menawarkan kunci yang sebenarnya dalam membaca seluruh Kitab Suci. Wafat dan kebangkitan Kristus adalah mercusuar yang menerangi seluruh Kitab Suci, dan juga menerangi kehidupan. Kitab Wahyu menggambarkan semua ini dengan gambaran Anak Domba yang membuka gulungan kitab “yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeteraikan dengan tujuh meterai” (bdk. 5:1-9), yaitu Kitab Suci Perjanjian Lama. Gereja, Sang Mempelai Kristus, adalah penafsir resmi teks Kitab Suci yang diilhamkan; Gereja adalah perantara pewartaannya yang otentik. Karena Gereja dikaruniai Roh Kudus – itulah sebabnya Gereja menjadi penafsirnya – Gereja adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15). Mengapa? Karena Gereja diilhamkan, diteguhkan oleh Roh Kudus. Dan tugas Gereja adalah membantu umat beriman dan mereka yang mencari kebenaran untuk menafsirkan teks-teks Kitab Suci dengan benar.

 

Salah satu cara melakukan pembacaan rohani berdasarkan sabda Allah adalah dengan cara yang disebut lectio divina, sebuah kata yang maknanya mungkin tidak kita pahami. Lectio divina berupa mendedikasikan waktu dalam sehari untuk membaca sebuah perikop Kitab Suci secara pribadi dan meditatif. Dan ini sangat penting: setiap hari, luangkan waktu untuk mendengarkan, merenungkan, membaca sebuah perikop Kitab Suci. Oleh karena itu, saya anjurkan agar kamu selalu memiliki Injil edisi saku dan menyimpannya di dalam tasmu, di sakumu… Jadi, ketika kamu sedang bepergian, atau mempunyai sedikit waktu luang, ambil dan bacalah. Ini sangat penting bagi kehidupan. Ambillah Injil saku dan sepanjang hari bacalah sekali, dua kali, bila kamu mempunyai kesempatan. Namun pembacaan rohani Kitab Suci yang hakiki adalah pembacaan bersama komunitas selama Liturgi Misa. Di sana, kita melihat bagaimana suatu peristiwa atau ajaran, yang diberikan Perjanjian Lama, terungkap sepenuhnya dalam Injil Kristus. Dan homili, ulasan oleh selebran, harus membantu mentransfer Sabda Allah dari kitab ke dalam kehidupan. Justru karena itulah homili harus singkat: sebuah gambaran, sebuah pemikiran dan sebuah kepekaan perasaan. Homili tidak boleh berlangsung lebih dari delapan menit, karena setelah itu, lama kelamaan perhatian hilang dan umat tertidur, dan mereka tidak salah. Homili harus seperti itu. Dan saya ingin mengatakan hal ini kepada para imam, yang banyak berbicara, sangat sering, dan kita tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Homili singkat: sebuah pemikiran, sebuah kepekaan perasaan dan isyarat untuk bertindak, tentang apa yang harus dilakukan. Tidak lebih dari delapan menit. Sebab homili harus membantu mentransfer Sabda Allah dari kitab ke dalam kehidupan. Dan di antara sekian banyak Sabda Allah yang kita dengar setiap hari dalam Misa atau Liturgi Harian, selalu ada satu yang ditujukan khusus untuk kita. Sesuatu yang menyentuh hati. Disambut dalam hati, dapat menerangi hari kita dan mengihami doa kita. Sebuah pertanyaan yang tidak boleh dibiarkan jatuh ke telinga yang tuli!

 

Marilah kita akhiri dengan sebuah pemikiran yang dapat membantu kita untuk jatuh cinta pada Sabda Allah. Seperti karya musik tertentu, Kitab Suci juga mempunyai nada dasar yang mengiringinya dari awal hingga akhir, dan nada ini adalah kasih Allah. ‘Seluruh Kitab Suci’, menurut pengamatan Santo Agustinus, “tidak lain hanyalah menceritakan kasih Allah”.[1] Dan Santo Gregorius Agung mendefinisikan Kitab Suci sebagai “surat dari Allah yang Mahaesa kepada ciptaan-Nya”, seperti surat dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan, dan menasihati kita untuk “mempelajari dan mengenal hati Allah dalam sabda-Nya.”[2] “Dengan wahyu itu”, Konsili Vatikan II kembali mengatakan, “Allah yang tidak kelihatan dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya, dan bergaul dengan mereka, untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya” (Dei Verbum, 2).

 

Saudara-saudari terkasih, teruslah membaca Kitab Suci! Namun jangan lupakan Injil saku: bawalah di tasmu, di sakumu, dan pada suatu saat selama hari itu, bacalah sebuah perikop. Dan ini akan membuatmu sangat dekat dengan Roh Kudus, yang ada di dalam Sabda Allah. Semoga Roh Kudus, yang mengilhamkan Kitab Suci dan sekarang memancar darinya, membantu kita memahami kasih Allah ini dalam situasi kehidupan nyata. Terima kasih.



[1]De catechizandis rudibus, I, 8, 4: PL 40, 319.

[2]Registrum Epistolarum, V, 46 (ed. Ewald-Hartmann, hlm. 345-346).

 

[Sapaan Khusus]

 

Saya menyapa dengan hangat para peziarah dan para pengunjung berbahasa Inggris yang ambil bagian dalam Audiensi hari ini, khususnya kelompok dari Inggris, Tiongkok, India, Indonesia, Filipina, dan Amerika Serikat. Saya memohonkan atasmu dan keluargamu sukacita dan damai Tuhan kita Yesus Kristus. Allah memberkatimu!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris yang disampaikan oleh seorang penutur]

 

Hari ini, dalam katekese lanjutan kita tentang Roh Kudus dan Sang Mempelai Perempuan, kita merenungkan tindakan Roh Kudus dalam pewahyuan Ilahi, khususnya dalam Kitab Suci. Allah, yang mengilhamkan Kitab Suci, pada gilirannya mengilhamkan Gereja, Mempelai Kristus, melalui sabda-Nya yang kudus, menjadikan Gereja sebagai penafsir yang berwibawa. Roh Kudus juga berkomunikasi dengan kita secara pribadi dalam kenyataan gerejawi ini, baik melalui lectio divina, yang merupakan pembacaan meditatif sebuah perikop Kitab Suci, atau yang terpenting, dalam Liturgi. Dalam situasi apa pun, selalu ada satu kata yang ditujukan khusus untuk kita. Seperti sebuah komposisi musik, Kitab Suci mengusung tema dasar, yang oleh Santo Agustinus dan Santo Gregorius Agung disebut kasih Allah. Semoga kita “belajar mengenal hati Allah melalui sabda Allah” dan memperkenankan sabda Allah memberikan kasih tersebut ke dalam kehidupan kita sehari-hari.
______

(Peter Suriadi - Bogor, 12 Juni 2024)