Liturgical Calendar

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 21 Desember 2025

Saudara-saudari terkasih, selamat siang!

 

Hari ini, pada Minggu Adven IV, liturgi mengajak kita untuk merenungkan sosok Santo Yusuf. Secara khusus, kita melihatnya pada saat Allah mengungkapkan perutusannya dalam sebuah mimpi (bdk. Mat 1:18-24). Dengan demikian, disajikan sebuah kisah sejarah keselamatan yang sangat indah, di mana tokoh utamanya, seperti kita, adalah manusia yang rapuh dan mudah berbuat kesalahan, namun pada saat yang sama berani dan kuat imannya.

 

Penginjil Matius menyebutnya sebagai "seorang yang benar" (bdk. 1:19), yang menggambarkannya sebagai orang Israel yang saleh yang menaati Hukum Taurat dan melayani rumah ibadah. Namun, di samping itu, Yusuf dari Nazaret juga tampak sebagai seorang yang sangat peka dan manusiawi.

 

Kita melihat teladan ini bahkan sebelum malaikat mengungkapkan kepadanya misteri yang terjadi pada Maria. Ketika Yusuf dihadapkan pada situasi yang sulit dipahami dan diterima, sehubungan dengan calon istrinya, ia tidak memilih jalan skandal dan kecaman publik, tetapi jalan yang bijaksana dan penuh kebaikan berupa penolakan secara diam-diam (bdk. Mat 1:19). Dengan cara ini, ia menunjukkan bahwa ia memahami makna terdalam dari ketaatan keagamaannya: makna belas kasihan.

 

Namun, kemurnian dan kemuliaan kepekaan perasaannya menjadi lebih jelas ketika Tuhan, dalam mimpi, mengungkapkan rencana keselamatan-Nya kepadanya, menunjukkan peran tak terduga yang harus ia emban sebagai suami dari Bunda Perawan Mesias. Di sini, sesungguhnya, dengan tindakan iman yang besar, Yusuf bahkan meninggalkan usaha terakhir demi keamanannya dan berlayar menuju masa depan yang kini sepenuhnya berada di tangan Allah. Santo Agustinus menggambarkan persetujuannya dengan cara ini: “Melalui kesalehan dan amal kasih Yusuf, seorang putra lahir dari Perawan Maria, dan dialah Putra Allah” (Khotbah 51: 20, 30).

 

Kesalehan dan amal kasih, belas kasihan dan penyerahan diri: inilah kebajikan-kebajikan dari laki-laki asal Nazaret yang ditunjukkan oleh liturgi hari ini, supaya dapat menyertai kita di hari-hari terakhir Masa Adven, menuju Natal. Ini adalah sikap penting yang mendidik hati untuk berjumpa Kristus dan saudara-saudari kita. Sikap ini juga dapat membantu kita untuk menjadi, bagi satu sama lain, palungan yang menyambut, rumah yang ramah, tanda kehadiran Allah. Di masa rahmat ini, janganlah kita menyia-nyiakan kesempatan untuk mempraktikkannya: mengampuni, memberi semangat, memberi sedikit pengharapan kepada mereka yang hidup bersama kita dan mereka yang kita temui; dan memperbarui dalam doa penyerahan diri kita sebagai anak kepada Tuhan dan pemeliharaan-Nya, mempercayakan segala sesuatu kepada-Nya dengan penuh keyakinan.

 

Semoga kita mendapat pertolongan dari Perawan Maria dan Santo Yusuf, yang dengan iman dan kasih yang besar, adalah orang-orang pertama yang menyambut Yesus, sang Juruselamat dunia.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Saya menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang – umat Roma dan para peziarah dari Italia dan bagian dunia lainnya. Secara khusus, saya menyapa mereka yang telah melakukan perjalanan dari Jumilla, Spanyol, dan kelompok guru dari Our Lady College, Hong Kong. Saya juga menyapa umat dari Chieti Scalo dan Voghera, serta para guru dan siswa dari Sekolah Menengah Banzi Bazoli, Lecce dan anggota “Fondazione Agostiniani nel Mondo” pada kesempatan peringatan hari jadi mereka.

 

Hari ini, saya menyapa secara khusus anak-anak dan kaum muda Roma! Sahabat-sahabat terkasih, kamu datang bersama keluarga dan para katekis untuk pemberkatan patung Kanak Yesus, yang akan kamu tempatkan di palungan rumah, sekolah, dan pusat komunitas parokimu. Saya berterima kasih kepada Pusat Oratorium Roma atas penyelenggaraan acara ini, dan saya dengan tulus memberkati semua “bambinelli.” Anak-anak terkasih, saat kamu berdiri di depan adegan kelahiran Yesus, mohon mendoakan juga ujud Paus kepada Yesus. Secara khusus, marilah kita berdoa bersama agar semua anak di dunia dapat hidup dalam damai. Saya berterima kasih dari lubuk hati saya!

 

Dan bersama dengan “bambinelli” dan semua ungkapan iman kita kepada Kanak Yesus, semoga Bapa, Putra, dan Roh Kudus selalu memberkati kamu semua.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu dan Natal yang kudus dan penuh kedamaian kepada kamu semua!

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 22 Desember 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 17 Desember 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 4. KEBANGKITAN KRISTUS DAN TANTANGAN DUNIA MASA KINI 8. PASKAH PASKAH SEBAGAI TEMPAT PERLINDUNGAN BAGI HATI YANG GELISAH

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi dan selamat datang!

 

Kehidupan manusia ditandai dengan gerakan terus menerus yang mendorong kita berbuat, bertindak. Dewasa ini, kecepatan dibutuhkan di mana-mana untuk mencapai hasil optimal di berbagai bidang. Bagaimana kebangkitan Yesus menerangi aspek pengalaman kita ini? Ketika kita turut serta dalam kemenangan-Nya atas kematian, akankah kita mendapat kelegaan? Iman memberitahu kita: ya, kita akan mendapat kelegaan. Kita tidak akan pasif, tetapi kita akan memasuki ketenangan Allah, yaitu kedamaian dan sukacita. Jadi, haruskah kita hanya menunggu, atau dapatkah ini mengubah kita sekarang juga?

 

Kita terserap oleh banyak aktivitas yang tidak selalu membuat kita puas. Banyak tindakan kita berkaitan dengan hal-hal praktis dan nyata. Kita harus memikul tanggung jawab atas banyak komitmen, memecahkan masalah, menghadapi kesulitan. Yesus pun terlibat dengan orang-orang dan kehidupan, tidak menyia-nyiakan diri-Nya, melainkan memberikan diri-Nya sampai akhir. Namun kita sering merasakan bagaimana terlalu banyak melakukan sesuatu, alih-alih memberi kita kepuasan, malah menjadi pusaran yang membuat kita kewalahan, menyingkirkan ketenangan kita, dan mencegah kita untuk menjalani sepenuhnya apa yang benar-benar penting dalam hidup kita. Kita kemudian merasa lelah dan tidak puas: waktu seolah terbuang untuk seribu hal praktis yang, bagaimanapun, tidak menyelesaikan makna utama keberadaan kita. Terkadang, di penghujung hari yang penuh aktivitas, kita merasa hampa. Mengapa? Karena kita bukanlah mesin, kita memiliki "hati"; bahkan, kita dapat mengatakan bahwa kita adalah hati.

 

Hati adalah lambang segenap kemanusiaan kita, penjumlahan pikiran, perasaan, dan keinginan kita, pusat diri kita yang tak terlihat. Penginjil Matius mengajak kita untuk merenungkan pentingnya hati, mengutip ungkapan Yesus yang indah ini: “Sebab, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21).

 

Oleh karena itu, harta sejati tersimpan di dalam hati, bukan di brankas duniawi, bukan dalam investasi keuangan besar, yang saat ini melebihi sebelumnya di luar kendali dan terkonsentrasi secara tidak adil dengan harga yang mahal berupa jutaan nyawa manusia dan kehancuran ciptaan Allah.

 

Penting untuk merenungkan aspek-aspek ini, karena dalam banyaknya komitmen yang terus kita hadapi, ada peningkatan risiko penebaran, terkadang keputusasaan, ketidakbermaknaan, bahkan pada orang-orang yang tampaknya sukses. Sebaliknya, menafsirkan hidup dalam terang Paskah, melihatnya bersama Yesus yang bangkit, berarti menemukan akses ke esensi pribadi manusia, ke hati kita: cor inquietum. Dengan kata sifat "gelisah" ini, Santo Agustinus membantu kita memahami kerinduan manusia akan pemenuhan. Kalimat lengkapnya merujuk pada awal Pengakuan-pengakuan, di mana Agustinus menulis: "Tuhan, Engkau telah menciptakan kami untuk diri-Mu sendiri, dan hati kami gelisah sampai beristirahat di dalam Engkau" (I, 1,1).

 

Kegelisahan adalah tanda bahwa hati kita tidak bergerak secara kebetulan, dengan cara yang tidak teratur, tanpa tujuan atau arah, tetapi berorientasi pada tujuan akhirnya, "pulang ke rumah". Pendekatan hati yang autentik tidak berupa memiliki harta benda dunia ini, tetapi mencapai apa yang dapat memenuhinya sepenuhnya; yaitu, kasih Allah, atau lebih tepatnya, Allah yang adalah Kasih. Namun, harta ini hanya dapat ditemukan dengan mengasihi sesama yang kita temui di sepanjang jalan: saudara-saudari sejiwa, yang kehadirannya menggerakkan dan mempertanyakan hati kita, memanggilnya untuk membuka diri dan memberikan dirinya. Sesama kita meminta kita untuk memperlambat langkah, menatap mata mereka, terkadang mengubah rencana kita, bahkan mungkin mengubah arah.

 

Sahabat-sahabat terkasih, inilah rahasia pergerakan hati manusia: kembali ke sumber keberadaannya, menikmati sukacita yang tidak pernah gagal, yang tidak pernah mengecewakan. Tidak seorang pun dapat hidup tanpa makna yang melampaui hal-hal yang sementara, melampaui apa yang berlalu. Hati manusia tidak dapat hidup tanpa pengharapan, tanpa mengetahui bahwa ia diciptakan untuk kelimpahan, bukan untuk kekurangan.

 

Yesus Kristus, dengan penjelmaan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya, telah memberi kita landasan yang kokoh untuk pengharapan ini. Hati yang gelisah tidak akan kecewa, jika ia memasuki dinamika kasih yang untuknya ia diciptakan. Tujuannya pasti, kehidupan telah menang, dan di dalam Kristus ia akan terus menang dalam setiap kematian kehidupan sehari-hari. Inilah pengharapan kristiani: marilah kita selalu berterima kasih dan mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberikannya kepada kita!

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Nigeria, Indonesia, dan Amerika Serikat. Saya berdoa semoga kamu semua, dan keluargamu, dapat mengalami Masa Adven yang terberkati sebagai persiapan untuk kedatangan Yesus yang baru lahir, Putra Allah dan Juruselamat dunia. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese kita tentang tema Yubileum “Yesus Kristus Pengharapan Kita,” hari ini kita merenungkan kebangkitan sebagai landasan kokoh pengharapan kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat kita yang serbacepat, kita sering merasa kewalahan oleh tekanan dan harapan akan efisiensi yang lebih besar dan hasil yang optimal. Ketika kita merasa demikian, marilah kita mengingat kata-kata yang baru saja kita dengar dari Injil Matius: “Sebab, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat 6:21). Harta hati kita bukanlah harta benda dunia ini, bukan pula kemakmuran, kesuksesan, atau prestasi yang mengagumkan! Sesungguhnya, Santo Agustinus menggambarkan hati kita gelisah. Kegelisahan itu bukanlah sembarangan dan tidak teratur; kegelisahan itu berorientasi surga, yang pintunya terbuka bagi kita berkat penjelmaan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Jika kita memasuki dinamika kasih dan rahmat-Nya, Ia akan menang di dalam diri kita — bukan hanya pada saat kematian kita, tetapi juga hari ini, saat ini, dan setiap hari setelahnya.

_____

(Peter Suriadi - Bogor, 17 Desember 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM DOA MALAIKAT TUHAN 14 Desember 2025

Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!

 

Bacaan Injil hari ini membawa kita ke penjara bersama Yohanes Pembaptis, yang dipenjarakan karena pemberitaannya (bdk. Mat 14:3-5). Meskipun demikian, ia tidak kehilangan pengharapan, sehingga menjadi tanda bagi kita bahwa seorang nabi, bahkan meski terbelenggu, tetap memiliki kemampuan untuk menggunakan suaranya dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

 

Dari penjara, Yohanes Pembaptis mendengar “apa yang dikerjakan Kristus” (Mat 11:2), yang berbeda dari yang ia harapkan, sehingga ia menyuruh murid-muridnya untuk bertanya kepada-Nya, “Engkaukah Dia yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (ayat 3). Mereka yang mencari kebenaran dan keadilan, mereka yang merindukan kebebasan dan kedamaian, memiliki pertanyaan tentang Yesus: Apakah Dia benar-benar Mesias, Juruselamat yang dijanjikan Allah melalui para nabi?

 

Yesus menjawab dengan mengarahkan pandangan kita kepada mereka yang dikasihi dan dilayani-Nya, yaitu orang-orang yang paling hina, orang miskin, orang sakit yang berbicara atas nama-Nya. Kristus menyatakan siapa Dia melalui perbuatan-Nya. Dan perbuatan-Nya adalah tanda keselamatan bagi kita semua. Bahkan, melalui perjumpaan dengan Yesus – kehidupan yang sebelumnya kehilangan terang, ucapan, dan rasa, memperoleh kembali makna – orang buta melihat, orang bisu berbicara, orang tuli mendengar. Rupa Allah, yang tampaknya cacat karena kusta, memperoleh kembali keutuhan dan vitalitas. Bahkan orang mati, yang sama sekali tidak bernyawa, kembali hidup (bdk. ayat 5). Inilah Injil Yesus, kabar baik yang diberitakan kepada orang miskin. Dengan demikian, ketika Allah datang ke dunia, hal itu terlihat jelas!

 

Sabda Yesus membebaskan kita dari penjara keputusasaan dan penderitaan. Setiap nubuat menemukan penggenapannya di dalam Dia. Kristuslah yang membuka mata manusia kepada kemuliaan Allah. Ia memberikan suara kepada orang-orang yang tertindas dan kepada mereka yang suaranya telah dibungkam oleh kekerasan dan kebencian. Ia mengalahkan ideologi yang membuat kita tuli terhadap kebenaran. Ia menyembuhkan penyakit yang merusak tubuh.

 

Dengan cara ini, sang Sabda kehidupan menebus kita dari kejahatan, yang menyebabkan hati mati. Karena alasan ini, dalam Masa Adven ini, sebagai murid-murid Tuhan, kita dipanggil untuk menggabungkan penantian kita akan Juruselamat dengan perhatian pada apa yang sedang dilakukan Allah di dunia. Kemudian kita akan dapat mengalami sukacita kebebasan dalam perjumpaan dengan sang Juruselamat kita: “Gaudete in Domino semper – Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan” (Flp 4:4). Undangan ini mengawali Misa Kudus hari ini, Hari Minggu Adven III, yang disebut Hari Minggu Gaudete. Marilah kita bersukacita, karena Yesus adalah pengharapan kita, terutama di masa-masa pencobaan, ketika hidup seolah kehilangan maknanya dan segala sesuatu tampak semakin gelap, kata-kata tak mampu mengungkapkan perasaan kita, dan kita kesulitan memahami orang lain.

 

Semoga Bunda Maria, teladan pengharapan yang teguh, penuh perhatian, dan sukacita, membantu kita meneladan karya Putranya dengan membagikan roti dan Injil kepada kaum miskin.

 

[Setelah pendarasan doa Malaikat Tuhan]

 

Saudara-saudari terkasih!

 

Kemarin di Jaén, Spanyol, Pastor Emanuele Izquierdo dan lima puluh delapan rekannya dikanonisasi, bersama dengan Pastor Antonio Montañés Chiquero dan enam puluh empat rekannya. Mereka semua dibunuh karena kebencian terhadap iman selama penganiayaan agama dari tahun 1936-1938. Juga kemarin Raymond Cayré, seorang imam, Gérard-Martin Cendrier, dari Ordo Saudara Dina, Roger Vallé, seorang seminaris, Jean Mestre, seorang awam, dan empat puluh enam rekannya dikanonisasi di Paris. Mereka dibunuh karena kebencian terhadap iman pada tahun 1944-1945 selama pendudukan Nazi. Marilah kita memuji Tuhan atas para martir ini, saksi-saksi Injil yang berani, yang dianiaya dan dibunuh karena tetap dekat dengan umat mereka dan setia kepada Gereja!

 

Saya sedang mengikuti dengan keprihatinan mendalam dimulainya kembali pertempuran di bagian timur Republik Demokratik Kongo. Sambil menyatakan kedekatan saya dengan rakyat Republik Demokratik Kongo, saya mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk menghentikan segala bentuk kekerasan dan mengusahakan dialog yang membangun, dengan menghormati proses perdamaian yang sedang berlangsung.

 

Saya menyapa kamu semua dengan penuh kasih sayang, umat Roma dan para peziarah dari Italia dan bagian lain dunia, terutama umat dari Belo Horizonte, Zagreb, Split, dan Kopenhagen, serta umat dari Korea Selatan, Tanzania, dan Slovakia. Saya menyapa kelompok-kelompok dari Mestre, Biancavilla, dan Bussi sul Tirino; mantan siswa Lembaga Mornese Italia, Orkestra Filharmonik Pugliese, Yayasan Oasi Nazareth Corato, kaum muda Oratorium Salesian Alcamo, dan mereka yang sedang mempersiapkan sakramen krisma dari Paroki San Pio da Pietrelcina Roma.

 

Saya mengucapkan selamat hari Minggu kepada semuanya.

______

 

(Peter Suriadi - Bogor, 14 Desember 2025)

WEJANGAN PAUS LEO XIV DALAM AUDIENSI UMUM 10 Desember 2025 : YESUS KRISTUS PENGHARAPAN KITA. 4. KEBANGKITAN KRISTUS DAN TANTANGAN DUNIA MASA KINI 7. PASKAH YESUS KRISTUS: JAWABAN AKHIR ATAS PERTANYAAN TENTANG KEMATIAN KITA

Saudara-saudari terkasih, selamat pagi! Selamat datang kepada kamu semua!

 

Misteri kematian selalu menimbulkan pertanyaan mendalam dalam diri manusia. Memang, tampaknya kematian adalah peristiwa yang paling alami dan sekaligus paling tidak alami yang ada. Kematian alami, karena setiap makhluk hidup di bumi akan mati. Kematian tidak alami, karena keinginan akan kehidupan dan keabadian yang kita semua rasakan untuk diri kita sendiri dan untuk orang-orang yang kita cintai membuat kita melihat kematian sebagai hukuman, sebagai sebuah "kontradiksi".

 

Banyak bangsa kuno mengembangkan ritual dan kebiasaan yang terkait dengan pemujaan orang mati, menemani dan mengenang mereka yang melakukan perjalanan menuju misteri tertinggi. Namun, saat ini kita melihat kecenderungan yang berbeda. Kematian tampaknya menjadi semacam tabu, sebuah peristiwa yang harus dihindari; sesuatu yang dibicarakan dengan nada berbisik, menghindari terganggunya kepekaan dan ketenangan kita. Inilah mengapa kita sering menghindari mengunjungi pemakaman, tempat peristirahatan mereka yang telah mendahului kita sambil mereka menunggu kebangkitan.

 

Jadi, apa itu kematian? Apakah kematian benar-benar kata terakhir dalam hidup kita? Hanya manusia yang mengajukan pertanyaan ini kepada diri mereka sendiri, karena hanya mereka yang tahu bahwa mereka harus mati. Tetapi kesadaran akan hal ini tidak menyelamatkan mereka dari kematian; sebaliknya, dalam arti tertentu "membebani" mereka dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Hewan tentu saja menderita, dan mereka menyadari bahwa kematian sudah dekat, tetapi mereka tidak tahu bahwa kematian adalah bagian dari takdir mereka. Mereka tidak mempertanyakan makna, tujuan, dan hasil akhir kehidupan.

 

Mempertimbangkan aspek ini, kita mungkin berpikir bahwa kita adalah makhluk yang paradoks dan tidak bahagia, bukan hanya karena kita mati, tetapi juga karena kita yakin bahwa peristiwa ini akan terjadi, meskipun kita tidak tahu bagaimana atau kapan. Kita mendapati diri kita sadar dan sekaligus tidak berdaya. Di sinilah mungkin asal mula penindasan dan pelarian keberadaan dari pertanyaan tentang kematian.

 

Santo Alfonsus Maria de’ Liguori, dalam karyanya yang terkenal Apparecchio alla morte (Persiapan Menuju Kematian), merenungkan nilai pedagogis kematian, menekankan bahwa kematian dapat menjadi guru kehidupan yang luar biasa. Mengetahui bahwa kematian itu ada, dan terutama merefleksinya, mengajarkan kita untuk memilih apa yang benar-benar ingin kita wujudkan dari keberadaan kita. Berdoa, untuk memahami apa yang bermanfaat dalam pandangan kerajaan surga, dan melepaskan hal-hal yang berlebihan yang justru mengikat kita pada hal-hal yang fana, adalah rahasia untuk hidup secara otentik, dalam kesadaran bahwa perjalanan kita di bumi mempersiapkan kita untuk keabadian.

 

Namun banyak pandangan antropologis saat ini menjanjikan keabadian imanen, meneorikan perpanjangan kehidupan duniawi melalui teknologi. Inilah skenario transhumanisme, yang sedang memasuki cakrawala tantangan zaman kita. Mungkinkah kematian benar-benar dikalahkan oleh sains? Tetapi kemudian, dapatkah sains itu sendiri menjamin kita bahwa kehidupan tanpa kematian juga merupakan kehidupan yang bahagia?

 

Peristiwa kebangkitan Kristus mengungkapkan kepada kita bahwa kematian bukanlah lawan dari kehidupan, melainkan bagian yang membentuknya, sebagai jalan menuju kehidupan abadi. Paskah Yesus memberi kita gambaran awal, di masa yang masih penuh penderitaan dan pencobaan ini, tentang kepenuhan apa yang akan terjadi setelah kematian.

 

Penginjil Lukas tampaknya memahami pertanda terang di tengah kegelapan ini ketika, pada akhir petang itu ketika kegelapan menyelimuti Kalvari, ia menulis: “Hari itu Hari Persiapan dan Sabat hampir mulai” (Luk 23:54). Terang ini, yang mengantisipasi fajar Paskah, sudah bersinar di tengah kegelapan langit, yang masih tampak mendung dan sunyi. Terang Sabat, pertama dan terakhir kalinya, menandai fajar hari setelah Sabat: terang baru kebangkitan. Hanya peristiwa inilah yang mampu menerangi misteri kematian sepenuhnya. Dalam terang inilah, dan hanya dalam terang inilah, apa yang diinginkan dan diharapkan hati kita menjadi kenyataan: bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan jalan menuju terang yang sempurna, menuju keabadian yang bahagia.

 

Yesus yang bangkit telah mendahului kita dalam pencobaan besar kematian, muncul sebagai pemenang berkat kuasa kasih ilahi. Dengan demikian, Ia telah mempersiapkan bagi kita tempat peristirahatan abadi, rumah tempat kita dinantikan; Ia telah memberi kita kepenuhan hidup di mana tidak ada lagi bayangan dan pertentangan.

 

Berkat Dia, yang mati dan bangkit kembali karena kasih, bersama Santo Fransiskus kita dapat menyebut kematian sebagai "saudari" kita. Menantikannya dengan pengharapan pasti akan kebangkitan melindungi kita dari rasa takut akan lenyap selamanya dan mempersiapkan kita untuk sukacita hidup tanpa akhir.

 

[Imbauan]

 

Saya sangat sedih mendengar berita tentang konflik yang kembali berkobar di sepanjang perbatasan antara Thailand dan Kamboja, yang telah merenggut nyawa warga sipil dan memaksa ribuan orang mengungsi dari rumah mereka. Saya menyampaikan simpati saya dalam doa untuk rakyat yang terkasih ini, dan saya mengimbau pihak-pihak yang bertikai untuk segera menghentikan tembakan dan melanjutkan dialog.

 

[Sapaan Khusus]

 

Pagi ini saya menyapa dengan hangat semua peziarah dan pengunjung berbahasa Inggris yang mengikuti Audiensi hari ini, terutama mereka yang datang dari Inggris, Wales, Malta, Uganda, Australia, Jepang, Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat. Saya berdoa semoga kamu semua, dan keluargamu, dapat mengalami Adven yang penuh berkat sebagai persiapan untuk kedatangan Yesus yang baru lahir, Putra Allah dan Juruselamat dunia. Allah memberkati kamu semua!

 

[Ringkasan dalam bahasa Inggris]

 

Saudara-saudari terkasih, dalam katekese hari ini, kita melanjutkan refleksi kita tentang tema Yubileum “Yesus Kristus Pengharapan Kita,” dengan mempertimbangkan kematian dalam terang kebangkitan. Sebagai manusia, kita menyadari bahwa hidup kita di bumi ini suatu hari nanti akan berakhir. Budaya kita saat ini cenderung takut akan kematian dan berusaha menghindari memikirkannya, bahkan beralih ke pengobatan dan sains untuk mencari keabadian. Bacaan Injil yang telah kita dengar mengajak kita untuk menantikan fajar kebangkitan. Yesus telah beralih dari kematian menuju kehidupan sebagai buah sulung dari ciptaan baru. Terang kemenangan-Nya menerangi kefanaan kita, mengingatkan kita bahwa kematian bukanlah akhir, tetapi peralihan dari kehidupan ini menuju keabadian. Karena itu, kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan saat persiapan. Saat persiapan adalah undangan untuk memeriksa hidup kita dan hidup sedemikian rupa sehingga suatu hari nanti kita dapat ambil bagian bukan hanya dalam kematian Kristus, tetapi juga dalam sukacita hidup abadi.

_____

 

(Peter Suriadi – Bogor, 10 Desember 2025)