
*******************************************
Saudara dan saudari terkasih,
Halo!
Hari ini, saudara dan saudari terkasih, saya ingin menambahkan suara
saya bagi tangisan yang muncul dengan meningkatnya kesedihan mendalam
dari setiap bagian dunia, dari setiap orang, dari dalam hati setiap
orang, dari satu keluarga besar yang adalah umat manusia: itulah
tangisan bagi perdamaian! Suatu tangisan yang menyatakan dengan
kekuatan: kita menginginkan sebuah dunia yang damai, kita ingin menjadi
pria dan wanita perdamaian, dan kita menginginkan dalam masyarakat kita,
yang terkoyak oleh perpecahan dan konflik, perdamaian tersebut timbul!
Perang jangan pernah lagi! Jangan pernah lagi perang! Perdamaian adalah
sebuah karunia yang berharga, yang harus digalakkan dan dijaga.
Ada begitu banyak konflik di dunia ini yang menyebabkan saya sangat
menderita dan khawatir, tetapi dalam hari-hari ini hati saya merasa
sangat terluka khususnya dengan apa yang terjadi di Suriah dan merasakan
kesedihan mendalam oleh perkembangan dramatis yang kurang menentu.
Aku sangat memohon bagi perdamaian, sebuah permohonan yang muncul dari
dalam diri saya. Berapa banyak penderitaan, berapa banyak kehancuran,
berapa banyak penderitaan mendapati penggunaan senjata dilakukan di
belakangnya dalam negara martir, terutama di kalangan warga sipil dan
tak bersenjata! Saya memikirkan banyak anak tidak akan melihat cahaya
masa depan! Dengan ketegasan penuh saya mengutuk penggunaan senjata
kimia: Saya memberitahu Anda bahwa gambaran-gambaran mengerikan dari
beberapa hari terakhir ini membara ke dalam pikiran dan hati saya. Ada
suatu penghakiman Allah dan sejarah atas tindakan kita yang tak
terhindarkan! Tidak pernah mendapati penggunaan kekerasan membawa
perdamaian di belakangnya. Perang melahirkan perang, kekerasan
melahirkan kekerasan.
Dengan seluruh kekuatan saya, saya
memohon masing-masing pihak dalam konflik ini untuk mendengarkan suara
hati nurani mereka sendiri, bukan menutup diri dalam kesemata-mataan
pada kepentingan mereka sendiri, melainkan melihat satu lain sebagai
saudara dan secara tegas dan berani menganut jalan pertemuan dan
negosiasi, sehingga mengatasi konflik buta. Dengan semangat yang sama
saya mendesak masyarakat internasional melakukan segala upaya untuk
meggalakkan usulan-usulan yang jelas bagi perdamaian di negara itu tanpa
penundaan lebih lanjut, suatu perdamaian yang didasarkan pada dialog
dan negosiasi, demi kebaikan seluruh rakyat Suriah.
Semoga
tidak ada satu upaya pun dikecualikan dalam menjamin bantuan kemanusiaan
untuk mereka yang terluka oleh konflik mengerikan ini, terutama mereka
yang terpaksa mengungsi dan banyak pengungsi di negara-negara terdekat.
Semoga para pekerja kemanusiaan, yang bertanggung jawab dengan tugas
meringankan penderitaan orang-orang ini, diberikan jalan masuk supaya
memberikan bantuan yang diperlukan.
Apa yang bisa kita lakukan
untuk membuat perdamaian di dunia? Seperti dikatakan Paus Yohanes, itu
berkaitan dengan masing-masing orang untuk membangun hubungan baru dalam
masyarakat manusia di bawah penguasaan dan bimbingan keadilan dan kasih
(lihat Yohanes XXIII, Pacem in Terris, [11 April 1963]: AAS 55, [1963],
301-302).
Seluruh pria dan wanita yang berkehendak baik
terikat oleh tugas mengejar perdamaian. Saya membuat suatu panggilan
yang kuat dan mendesak kepada Gereja Katolik secara keseluruhan, dan
juga kepada setiap orang Kristiani lainnya, serta kepada para penganut
setiap agama dan kepada saudara dan saudari yang tidak percaya:
perdamaian adalah suatu kebaikan yang mengatasi setiap rintangan, karena
milik seluruh umat manusia!
Saya ulangi dengan tegas: bukan
sebuah budaya konfrontasi ataupun sebuah budaya konflik yang membangun
keselarasan di dalam dan di antara orang-orang, melainkan sebuah budaya
perjumpaan dan sebuah budaya dialog; inilah satu-satunya jalan menuju
perdamaian.
Semoga pembelaan bagi perdamaian bangkit dan
menyentuh hati setiap orang sehingga mereka dapat meletakkan senjata
mereka dan membiarkan diri mereka dipimpin oleh kehendak bagi
perdamaian.
Untuk tujuan ini, saudara dan saudara, saya telah
memutuskan untuk mengumumkan untuk seluruh Gereja pada tanggal 7
September mendatang, vigili kelahiran Maria, Ratu Perdamaian, satu hari
puasa dan doa bagi perdamaian di Suriah, Timur Tengah, dan di seluruh
dunia, dan saya juga mengajak setiap orang, termasuk orang-orang
Kristiani rekan kita, para pengikut agama lain dan seluruh orang yang
berkehendak baik, untuk ikut serta, dengan cara apa pun yang mereka
bisa, dalam prakarsa ini.
Pada tanggal 7 September, di Lapangan
Santo Petrus, di sini, dari pukul 19.00 hingga pukul 24.00, kita akan
berkumpul dalam doa dan dalam suatu semangat pertobatan, memohon karunia
agung Allah akan perdamaian atas bangsa Suriah tercinta dan atas setiap
situasi konflik dan kekerasan di seluruh dunia. Umat manusia perlu
melihat gerakan perdamaian ini dan mendengar kata-kata harapan dan
perdamaian! Saya memohon seluruh Gereja-gereja lokal, di samping
berpuasa, agar mereka berkumpul untuk berdoa bagi intensi ini.
Marilah kita memohon Maria untuk membantu kita menanggapi kekerasan,
konflik dan perang, dengan kekuatan dialog, rekonsiliasi dan kasih. Dia
adalah bunda kita: semoga dia membantu kita untuk menemukan perdamaian;
kita semua adalah anak-anaknya! Bantulah kami, Maria, mengatasi saat
yang paling sulit ini dan membaktikan diri kami setiap hari untuk
membangun dalam setiap situasi sebuah budaya perjumpaan dan perdamaian
yang otentik. Maria, Ratu Perdamaian, doakanlah kami!