
Pada
bulan Juli 2013 lalu, Paus Fransiskus menyetujui mukjizat kedua dalam
penyebab kanonisasi Yohanes Paulus II : seorang wanita Kosta Rika
disembuhkan dari suatu aneurisma otak terminal pada tanggal 1 Mei
2011, hari beatifikasi Paus Yohanes Paulus II. Paus Fransiskus juga
menyetujui penyebab kanonisasi Yohanes XXIII tanpa mukjizat kedua,
sehingga membuka jalan bagi dua paus tersebut dikanonisasi secara
bersama-sama.
Tanggal kanonisasi yang dipilih sangat
penting bagi Yohanes Paulus II karena selama masa kepausannya hari
Minggu pertama setelah Paskah ditetapkan sebagai Hari Minggu Kerahiman
Ilahi. Tanggal itu juga menjadi tanggal beatifikasinya pada tahun 2011
oleh penggantinya, Paus Benediktus XVI.
Salah satu aspek utama warisan Yohanes XXIII dan Yohanes Paulus II adalah cara yang di dalamnya kepausan mereka dipengaruhi oleh "awal mereka yang sederhana". Lahir dari sebuah keluarga besar yang miskin, Angelo Roncalli, setelah pemilihannya sebagai Paus, mengambil nama "Yohanes" karena itu adalah nama ayahnya. Ia menjabat sebagai pastor militer selama Perang Dunia I. Beliau mengatakan bahwa beliau kembali ke kamarnya sendirian di malam hari, berlutut, dan benar-benar menangis memikirkan orang-orang kecil yang tewas di medan tempur. Begitu juga dengan Karol Wojtyla yang, bersama dengan orang-orang sengsara lainnya, hidup selama pendudukan Jerman di Polandia. Pengalaman ini mempengaruhi "kepausannya, hidupnya sendiri di mana ia menekankan martabat pribadi manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah".
Aspek penting lainnya
warisan mereka adalah bagaimana mereka mempercayakan penderitaan mereka
kepada Allah. Yohanes XXIII, misalnya, yang mengalami kanker perut,
akhirnya menjadi terbaring di tempat tidur. Beliau bercerita kepada
seorang sahabatnya di akhir hidupnya, dan mengatakan : “Pandanglah Salib
itu. Itulah yang saya pandang ketika saya bangun di pagi hari dan
itulah yang saya pandang sebelum saya pergi tidur. Itu meringkas seluruh
kepausan saya. Lengan terentang Yesus di kayu salib: tidak seorang pun
dikecualikan". Salib menjadi titik sangat penting baginya. Baru-baru
ini, banyak yang masih ingat bagaimana Yohanes Paulus II beralih dari
seorang pria muda dan energik untuk menjadi lemah dan tidak mampu
berbicara, menderita penyakit Parkinson. Kita ingat beliau bersandar di
kayu salib, yang menjadi sebuah ikon masa kepausannya. Penderitaannya
menjadi mimbar terbesar dari yang pernah beliau khotbahkan. Banyak dari
kita menyembunyikan kelemahan fisik kita, kita menyembunyikan
penderitaan kita. Tetapi [baginya] kelemahan fisik dan penderitaan
menjadi seperti lencana kehormatan karena salib menjadi landasan yang di
atasnya segala sesuatu yang lain dibangun.
Aspek
terakhir warisan mereka ditunjukkan oleh kasih mereka bagi Gereja. Tentu
saja bersama Yohanes XXIII kita mengetahui aspek ini dalam hidupnya
sendiri. Aspek tersebut merupakan sebuah kasih yang teguh, yang
diarahkan kepada orang miskin namun beliau melakukan hal-hal yang tidak
biasa, seperti memanggil Konsili Vatikan II. Beliau adalah seorang imam
pedesaan yang mengasihi orang miskin. Aspek yang sama ada dalam diri
Yohanes Paulus II. Sebagaimana dibuktikan oleh banyak perjalanannya,
ensikliknya, serta oleh mottonya Totus Tuus (= semua milik-Mu). Bahkan
ketika tubuh mereka sangat lemah, mereka mengasihi sampai akhir. Dan
itulah sebuah kehidupan Ilahi yang membawa mereka untuk menyerahkan diri
mereka sepenuhnya.