Saudara-saudari terkasih, selamat hari Minggu!
Bacaan
Injil hari ini menyajikan perjumpaan Yesus dengan murid-murid pertama (bdk. Yoh
1:35-42). Adegan ini mengajak kita untuk mengingat perjumpaan pertama kita
dengan Yesus. Kita masing-masing pernah mengalami perjumpaan pertama dengan
Yesus, saat kanak-kanak, saat remaja, saat orang muda, saat dewasa… Kapan aku
pertama kali berjumpa Yesus? Cobalah untuk sedikit mengingat hal ini. Dan
setelah pemikiran ini, kenangan ini, memperbaharui sukacita mengikuti Dia dan
bertanya pada diri kita – mengikut Yesus berarti menjadi murid Yesus – apa
artinya menjadi murid Yesus? Menurut Bacaan Injil hari ini kita dapat mengambil
tiga kata: mencari Yesus, tinggal bersama Yesus, dan mewartakan Yesus. Mencari,
tinggal, mewartakan.
Pertama-tama,
mencari. Dua murid, berkat kesaksian Yohanes Pembaptis, mulai mengikut Yesus;
Ia “melihat bahwa mereka mengikuti Dia lalu berkata kepada mereka, ‘Apa yang
kamu cari?’” (ayat 38). Kata-kata pertama yang disampaikan Yesus kepada mereka:
pertama-tama, Ia mengajak mereka untuk melihat ke dalam, bertanya pada diri
mereka tentang keinginan yang ada di dalam hati mereka. “Apa yang kamu cari?”.
Tuhan tidak ingin merekrut para pengikut agama baru, Ia tidak ingin mendapatkan
para pengikut yang dangkal; Tuhan menginginkan orang-orang yang mempertanyakan
diri mereka dan membiarkan diri mereka tertantang oleh Sabda-Nya. Oleh karena
itu, untuk menjadi murid Yesus, pertama-tama kita perlu mencari Dia, kita perlu
mencari Dia, kemudian kita harus memiliki hati yang terbuka dan menyelidiki,
bukan hati yang sarat atau berpuas diri.
Apa
yang dicari murid-murid pertama melalui kata kerja kedua: tinggal? Mereka tidak
mencari berita atau informasi tentang Allah, atau tanda-tanda atau mukjizat,
namun mereka ingin bertemu Yesus, bertemu Mesias, berbicara dengan-Nya, tinggal
bersama-Nya, mendengarkan-Nya. Apa pertanyaan pertama yang mereka ajukan?
"Di manakah Engkau tinggal?" (ayat 38). Dan Kristus mengundang mereka
untuk tinggal bersama-Nya: “Marilah dan kamu akan melihatnya” (ayat 39).
Tinggal bersama-Nya, tetap bersama-Nya: inilah hal yang paling penting bagi
murid Tuhan. Singkatnya, iman bukanlah sebuah teori, bukan; iman adalah sebuah
perjumpaan – iman adalah sebuah perjumpaan. Iman akan melihat di mana Tuhan
tinggal, dan tinggal bersama-Nya. Berjumpa Tuhan dan tinggal bersama-Nya.
Mencari,
tinggal, dan akhirnya, mewartakan. Para murid mencari Yesus, lalu mereka pergi
bersama-Nya dan tinggal sepanjang malam bersama-Nya. Dan sekarang, mewartakan.
Kemudian, mereka kembali dan mewartakan. Mencari, tinggal, mewartakan. Apakah
aku mencari Yesus? Apakah aku tinggal bersama Yesus? Apakah aku mempunyai
keberanian untuk mewartakan Yesus? Perjumpaan pertama kedua murid dengan Yesus
merupakan pengalaman yang begitu berkesan sehingga mereka selalu ingat saat
itu: “kira-kira pukul empat” (ayat 39). Hal ini memungkinkan kita melihat
kekuatan perjumpaan itu. Dan hati mereka sangat penuh sukacita sehingga mereka
langsung merasakan kebutuhan untuk menyampaikan karunia yang telah mereka
terima. Memang salah seorang dari mereka, Andreas, bergegas membagikannya
kepada saudaranya.
Saudara-saudari,
marilah hari ini kita juga mengingat perjumpaan pertama kita dengan Tuhan. Kita
masing-masing pernah mengalami perjumpaan pertama, baik di dalam maupun di luar
keluarga … Kapan aku berjumpa Tuhan? Kapan Tuhan menjamah hatiku? Dan marilah
kita bertanya pada diri kita: apakah kita masih menjadi murid, terpikat pada
Tuhan, apakah kita mencari Tuhan, ataukah kita menetap pada iman yang terbentuk
dari kebiasaan? Apakah kita tinggal bersama-Nya dalam doa, tahukah kita
bagaimana tinggal dalam keheningan bersama-Nya? Tahukah aku bagaimana tinggal
dalam doa bersama Tuhan, tinggal dalam keheningan bersama-Nya? Lalu, apakah
kita merasakan keinginan untuk berbagi, mewartakan indahnya perjumpaan dengan
Tuhan?
Semoga
Santa Maria, murid pertama Yesus, memberi kita keinginan untuk mencari Dia,
keinginan untuk tinggal bersama Dia, dan keinginan untuk mewartakan Dia.
[Setelah pendarasan
doa Malaikat Tuhan]
Saya
menyapa kamu semua, umat Roma serta para peziarah dari Italia dan pelbagai
belahan dunia. Secara khusus saya menyapa para anggota Hermandad Sacramental de
Nuestra Señora de los Remedios dari Villarrasa, Spanyol.
Kita
tidak boleh lupa untuk mendoakan para korban bencana tanah longsor di Kolombia
yang sudah memakan banyak korban.
Dan
jangan lupakan mereka yang menderita akibat kekejaman perang di pelbagai
belahan dunia, terutama di Ukraina, Palestina, dan Israel. Di awal tahun, kita
saling bertukar harapan akan perdamaian, namun senjata terus membunuh dan
menghancurkan. Marilah kita berdoa agar mereka yang berkuasa atas berbagai pertikaian
ini merenungkan fakta bahwa perang bukanlah cara untuk menyelesaikan berbagai
pertikaian tersebut, karena perang akan menabur kematian di kalangan warga
sipil dan menghancurkan kota-kota serta infrastruktur. Dengan kata lain, perang
saat ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Janganlah kita melupakan hal
ini: perang itu sendiri merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Masyarakat
membutuhkan perdamaian! Dunia membutuhkan perdamaian! Saya mendengar, beberapa
menit yang lalu, dalam program “A Sua Immagine”, Pastor Faltas, vikaris Pamong
Tanah Suci di Yerusalem: ia berbicara tentang pendidikan untuk perdamaian. Kita
harus mendidik untuk perdamaian. Kita dapat melihat bahwa kita – umat manusia
secara keseluruhan – belum cukup terdidik untuk menghentikan semua perang.
Marilah kita selalu berdoa memohon rahmat ini: mendidik untuk perdamaian.
Kepada
kamu semua saya mengucapkan selamat hari Minggu. Tolong jangan lupa untuk
mendoakan saya. Selamat menikmati makan siangmu dan sampai jumpa!
_____
(Peter Suriadi - Bogor, 14 Januari 2024)